Sabtu, 23 Mei 2026



Prestasi membanggakan di bidang kepenulisan kembali ditorehkan murid SMP Walisongo Pecangaan. Tri Anindita Maulany, murid kelas 8 berhasil meraih juara 3 lomba Menulis Cerita dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) jenjang SMP/MTs tingkat Kabupaten Jepara. Lomba yang dihelat pada 13 Mei 2026 tersebut, bertempat di aula 1 kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Jepara.

Prestasi Nindi (sapaan akrab Tri Anindita Maulany) menyusul raihan kakak kelasnya, Naila Ibnah Sakinatul Mubarokah yang sebelumnya juga menyabet juara 3. Bedanya, Naila memperoleh gelar tersebut melalui ajang Pekan Olahraga dan Seni Maarif (Porsema) cabang Menulis Biografi Kiai.

Dua pencapaian tersebut membuktikan komitmen SMP Walisongo dalam menggiatkan budaya literasi di sekolah, khususnya dalam bidang membaca dan menulis. 

Dari tiga tema yang disediakan panitia, Nindi memilih tema “Menjaga Bumi”. Sejak lomba dimulai, jari-jari lentik Nindi terus menari-nari di atas keyboard laptop. Ia menulis cerita berjudul “Jejak yang Kita Tinggalkan”. Berikut ini cerita lengkapnya.

 



JEJAK YANG KITA TINGGALKAN

Tri Anindita Maulany


Pagi itu aku berdiri terpaku di tepi sungai yang dulu menjadi tempat bermainku. Dulu, air di sini jernih hingga aku bisa melihat batu-batu kecil di dasarnya. Nenek sering bercerita bagaimana anak-anak kampung berenang dan menangkap udang dengan tangan kosong di sini.

Akan tetapi, pagi ini yang kulihat hanyalah hamparan air kecokelatan yang bau, dipenuhi botol-botol plastik, kantong kresek, dan busa detergen yang mengapung seperti salju kotor. Eceng gondok tumbuh liar menutupi separuh badan sungai, menghitam di bagian akarnya karena racun limbah yang mengendap bertahun-tahun. Di bibir sungai, tumpukan sampah menggunung. Bekas styrofoam, sisa makanan yang membusuk, dan kaleng-kaleng berkarat yang entah sudah berapa lama bersemayam di sana.

Udara di sekitarnya pun terasa berat. Bau busuk menyergap hidungku setiap kali angin bertiup dari arah sungai. Aku memandang ke sekeliling: pohon-pohon di bantaran sungai tampak kusam, daunnya berlapis debu, dan abu dari pembakaran sampah yang sering dilakukan warga di pinggir jalan. Tanah di sekitar sini pun sudah berubah warna: hitam berminyak di beberapa titik, bekas oli dan cairan limbah yang mengalir begitu saja dari bengkel-bengkel kecil di hulu. Aku menelan ludah. Bumi ini sakit, dan kita semua tahu, tapi pura-pura tidak melihat.

“Kamu ngapain, Nin?” suara Dita mengejutkanku. Sahabatku itu tiba-tiba muncul di belakangku. Napasnya sedikit terengah.

“Lihat ini!” kataku tanpa berbalik.

Dita menghampiriku dan memandang ke arah yang sama. Wajahnya mengeras. “Sudah berapa kali kita laporkan ini ke Pak RT,” keluhnya pelan.

“Mungkin laporan saja tidak cukup,” jawabku.

Sejak hari itu, ada sesuatu yang terus membayang di pikiranku. Di kelas, ketika Bu Sari memberi kami tugas proyek, aku mengangkat tangan tanpa berpikir panjang. “Saya ingin membuat peta sampah di sekitar sekolah, Bu.” Beberapa teman menahan tawa. Namun, Dita langsung menyahut, “Saya ikut.”

Selama seminggu penuh, aku dan Dita menyisir setiap sudut lingkungan sekolah sambil membawa kamera dan buku catatan. Kami mendokumentasikan setiap titik pembuangan sampah liar. Di balik tembok sekolah, di bawah jembatan kecil, di pojok pasar, hingga di pinggir got yang sudah tersumbat. Hasilnya mengejutkan: ada 12 titik pembuangan sampah liar hanya dalam radius 200 meter dari gerbang sekolah.

Plastik, styrofoam, sisa makanan, semuanya teronggok tanpa malu. Kami juga mencatat kondisi drainase yang mampet. selokan yang berubah menjadi tempat pembuangan oli bekas, dan satu got yang airnya sudah berubah warna menjadi hijau pekat karena lumut dan limbah. Data itu kami susun menjadi peta berwarna lengkap dengan foto-foto buktinya.

Ketika kami mempresentasikan temuan itu di depan kelas, ruangan hening. Bu Sari memandang peta itu lama. “Kalian berdua telah melakukan sesuatu yang kebanyakan orang dewasa pun enggan lakukan,” ujar Bu Sari.

Proyek itu tidak berhenti di dalam kelas. Dengan izin kepala sekolah, aku dan Dita mengajukan proposal kerja bakti kepada ketua RT setempat. Pada Minggu pagi, aku dan Dita datang paling awal ke sungai itu dengan membawa sarung tangan, karung plastik besar, dan semangat yang kami harap tidak padam sebelum siang.

Awalnya hanya lima orang yang hadir. Aku, Dita, Bu Sari, penjaga sekolah, dan Pak RT. Namun, ketika warga melihat kami turun langsung ke tepi sungai memungut sampah dengan serius, satu per satu mereka bergabung. Ada ibu-ibu yang membawa sapu lidi, bapak-bapak yang mengangkut karung sampah ke truk pengangkut. Bahkan, teman-teman sekolah kami ikut datang membawa semangat melebihi usianya. Siang itu, 12 titik sampah liar berhasil dibersihkan. Dua truk sampah penuh mengangkut hasil kerja bakti kami.

Aku tidak ingat siapa saja yang terlibat dalam kerja bakti hari itu. Hanya satu orang yang paling aku ingat. Seorang kakek yang sering kulihat membuang sampah sembarangan ke sungai, ikut datang memungut sampah-sampah. Kakek itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan ke arahku, seolah menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin penyesalan. Mungkin terima kasih. Mungkin keduanya.

Dalam perjalanan pulang, Dita bergumam, “Kita tidak mengubah sungai hari ini. Namun, kita mungkin mengubah cara bapak itu melihat sungai.”

“Dan cara dia memperlakukannya,” tambahku.

Malam harinya, aku duduk di depan rumah. Aku berpikir tentang jejak-jejak yang ditinggalkan manusia di bumi ini: jejak ban di tanah yang mengeras, jejak asap di udara yang menipis, jejak plastik di laut yang tak kunjung habis. Selama ini kita hidup seolah bumi adalah tempat sampah raksasa yang tidak akan pernah penuh.  Kita berpikir, seolah alam selalu punya cara untuk memulihkan diri meski kita terus menggerogotinya.

Bumi bukan tempat sampah. Bumi adalah rumah. Satu-satunya rumah yang kita punya, yang kita warisi dari leluhur dan akan kita wariskan kepada anak-cucu kita. Setiap sampah yang kita buang sembarangan, setiap pohon yang kita tebang tanpa menanam gantinya, setiap sungai yang kita jadikan got, semuanya adalah utang yang akan ditagih oleh generasi yang belum lahir.

Menjaga bumi bukan tugas pemerintah atau aktivis lingkungan saja. Itu tugas kita semua. Mari kita mulai dari hal paling kecil: tidak membuang sampah sembarangan dan menanam satu pohon di halaman. Karena perubahan besar selalu bermula dari keputusan kecil yang diambil oleh satu orang yang memilih untuk tidak berpaling. Aku memilih untuk menjadi orang itu. Dan aku berharap, setelah membaca cerita ini, kamu pun memilih hal yang sama.


0 komentar:

Posting Komentar

SEKILAS SPAWAS

SMP Walisongo Pecangaan adalah salah satu SMP unggul di Kabupaten Jepara yang berada di bawah naungan Yayasan Walisongo Pecangaan. Berdiri pada tahun 1986, SMP Walisongo Pecangaan mempunyai ciri khas dan keunggulan dalam penguatan aqidah Islam ahlussunnah wal jamaah, pengamalan ubudiyah, pembiasaan akhlakul karimah, dan pengembangan potensi peserta didik.

VISI DAN SLOGAN

VISI "Mewujudkan lulusan yang unggul dalam prestasi, santun dalam pekerti, dan berdaya saing tinggi." SLOGAN "Unggul Berkarakter"

KATEGORI TULISAN

PALING BANYAK DIBACA