Prestasi
membanggakan di bidang kepenulisan kembali ditorehkan murid SMP Walisongo
Pecangaan. Tri Anindita Maulany, murid kelas 8 berhasil meraih juara 3 lomba Menulis
Cerita dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) jenjang
SMP/MTs tingkat Kabupaten Jepara. Lomba yang dihelat pada 13 Mei 2026 tersebut,
bertempat di aula 1 kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora)
Jepara.
Prestasi Nindi
(sapaan akrab Tri Anindita Maulany) menyusul raihan kakak kelasnya, Naila
Ibnah Sakinatul Mubarokah yang sebelumnya juga menyabet juara 3. Bedanya, Naila
memperoleh gelar tersebut melalui ajang Pekan Olahraga dan Seni Maarif
(Porsema) cabang Menulis Biografi Kiai.
Dua pencapaian tersebut membuktikan komitmen SMP Walisongo dalam menggiatkan budaya literasi di sekolah, khususnya dalam bidang membaca dan menulis.
Dari tiga tema
yang disediakan panitia, Nindi memilih tema “Menjaga Bumi”. Sejak lomba
dimulai, jari-jari lentik Nindi terus menari-nari di atas keyboard laptop. Ia
menulis cerita berjudul “Jejak yang Kita Tinggalkan”. Berikut ini cerita lengkapnya.
JEJAK YANG KITA TINGGALKAN
Tri Anindita Maulany
Pagi itu aku
berdiri terpaku di tepi sungai yang dulu menjadi tempat bermainku. Dulu, air di
sini jernih hingga aku bisa melihat batu-batu kecil di dasarnya. Nenek sering
bercerita bagaimana anak-anak kampung berenang dan menangkap udang dengan
tangan kosong di sini.
Akan tetapi,
pagi ini yang kulihat hanyalah hamparan air kecokelatan yang bau, dipenuhi
botol-botol plastik, kantong kresek, dan busa detergen yang mengapung seperti
salju kotor. Eceng gondok tumbuh liar menutupi separuh badan sungai, menghitam
di bagian akarnya karena racun limbah yang mengendap bertahun-tahun. Di bibir
sungai, tumpukan sampah menggunung. Bekas styrofoam, sisa makanan yang
membusuk, dan kaleng-kaleng berkarat yang entah sudah berapa lama bersemayam di
sana.
Udara di
sekitarnya pun terasa berat. Bau busuk menyergap hidungku setiap kali angin
bertiup dari arah sungai. Aku memandang ke sekeliling: pohon-pohon di bantaran
sungai tampak kusam, daunnya berlapis debu, dan abu dari pembakaran sampah yang
sering dilakukan warga di pinggir jalan. Tanah di sekitar sini pun sudah
berubah warna: hitam berminyak di beberapa titik, bekas oli dan cairan limbah
yang mengalir begitu saja dari bengkel-bengkel kecil di hulu. Aku menelan
ludah. Bumi ini sakit, dan kita semua tahu, tapi pura-pura tidak melihat.
“Kamu ngapain,
Nin?” suara Dita mengejutkanku. Sahabatku itu tiba-tiba muncul di belakangku. Napasnya
sedikit terengah.
“Lihat ini!”
kataku tanpa berbalik.
Dita
menghampiriku dan memandang ke arah yang sama. Wajahnya mengeras. “Sudah berapa
kali kita laporkan ini ke Pak RT,” keluhnya pelan.
“Mungkin
laporan saja tidak cukup,” jawabku.
Sejak hari
itu, ada sesuatu yang terus membayang di pikiranku. Di kelas, ketika Bu Sari memberi
kami tugas proyek, aku mengangkat tangan tanpa berpikir panjang. “Saya ingin
membuat peta sampah di sekitar sekolah, Bu.” Beberapa teman menahan tawa. Namun,
Dita langsung menyahut, “Saya ikut.”
Selama
seminggu penuh, aku dan Dita menyisir setiap sudut lingkungan sekolah sambil
membawa kamera dan buku catatan. Kami mendokumentasikan setiap titik pembuangan
sampah liar. Di balik tembok sekolah, di bawah jembatan kecil, di pojok pasar,
hingga di pinggir got yang sudah tersumbat. Hasilnya mengejutkan: ada 12 titik pembuangan
sampah liar hanya dalam radius 200 meter dari gerbang sekolah.
Plastik,
styrofoam, sisa makanan, semuanya teronggok tanpa malu. Kami juga mencatat
kondisi drainase yang mampet. selokan yang berubah menjadi tempat pembuangan
oli bekas, dan satu got yang airnya sudah berubah warna menjadi hijau pekat
karena lumut dan limbah. Data itu kami susun menjadi peta berwarna lengkap
dengan foto-foto buktinya.
Ketika kami
mempresentasikan temuan itu di depan kelas, ruangan hening. Bu Sari memandang
peta itu lama. “Kalian berdua telah melakukan sesuatu yang kebanyakan orang
dewasa pun enggan lakukan,” ujar Bu Sari.
Proyek itu
tidak berhenti di dalam kelas. Dengan izin kepala sekolah, aku dan Dita
mengajukan proposal kerja bakti kepada ketua RT setempat. Pada Minggu pagi, aku
dan Dita datang paling awal ke sungai itu dengan membawa sarung tangan, karung
plastik besar, dan semangat yang kami harap tidak padam sebelum siang.
Awalnya hanya
lima orang yang hadir. Aku, Dita, Bu Sari, penjaga sekolah, dan Pak RT. Namun, ketika
warga melihat kami turun langsung ke tepi sungai memungut sampah dengan serius,
satu per satu mereka bergabung. Ada ibu-ibu yang membawa sapu lidi, bapak-bapak
yang mengangkut karung sampah ke truk pengangkut. Bahkan, teman-teman sekolah
kami ikut datang membawa semangat melebihi usianya. Siang itu, 12 titik sampah
liar berhasil dibersihkan. Dua truk sampah penuh mengangkut hasil kerja bakti
kami.
Aku tidak
ingat siapa saja yang terlibat dalam kerja bakti hari itu. Hanya satu orang
yang paling aku ingat. Seorang kakek yang sering kulihat membuang sampah
sembarangan ke sungai, ikut datang memungut sampah-sampah. Kakek itu tidak
berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan ke arahku, seolah menyampaikan
sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin penyesalan.
Mungkin terima kasih. Mungkin keduanya.
Dalam
perjalanan pulang, Dita bergumam, “Kita tidak mengubah sungai hari ini. Namun,
kita mungkin mengubah cara bapak itu melihat sungai.”
“Dan cara dia
memperlakukannya,” tambahku.
Malam harinya,
aku duduk di depan rumah. Aku berpikir tentang jejak-jejak yang ditinggalkan
manusia di bumi ini: jejak ban di tanah yang mengeras, jejak asap di udara yang
menipis, jejak plastik di laut yang tak kunjung habis. Selama ini kita hidup
seolah bumi adalah tempat sampah raksasa yang tidak akan pernah penuh. Kita berpikir, seolah alam selalu punya cara
untuk memulihkan diri meski kita terus menggerogotinya.
Bumi bukan
tempat sampah. Bumi adalah rumah. Satu-satunya rumah yang kita punya, yang kita
warisi dari leluhur dan akan kita wariskan kepada anak-cucu kita. Setiap sampah
yang kita buang sembarangan, setiap pohon yang kita tebang tanpa menanam
gantinya, setiap sungai yang kita jadikan got, semuanya adalah utang yang akan
ditagih oleh generasi yang belum lahir.
Menjaga bumi
bukan tugas pemerintah atau aktivis lingkungan saja. Itu tugas kita semua. Mari
kita mulai dari hal paling kecil: tidak membuang sampah sembarangan dan menanam
satu pohon di halaman. Karena perubahan besar selalu bermula dari keputusan
kecil yang diambil oleh satu orang yang memilih untuk tidak berpaling. Aku
memilih untuk menjadi orang itu. Dan aku berharap, setelah membaca cerita ini,
kamu pun memilih hal yang sama.


0 komentar:
Posting Komentar