Kamis, 27 November 2025

 


       

    Di setiap sudut sekolah, lingkungan kerja, bahkan dunia maya, kita masih sering mendengar kata "bully” atau perundungan. Bully bukan sekadar candaan berlebihan. Ia adalah luka yang menusuk hati yang kadang tidak terlihat, tetapi membekas lama.

    Banyak orang menganggap bully merupakan hal sepele. “Ah, cuma bercanda”, “hanya iseng”, atau “supaya kuat mental”. Padahal, bagi korban, bully bisa meninggalkan trauma yang menghancurkan rasa percaya diri, bahkan harapan hidup. 

    Oleh karena itu, kita perlu berhenti menganggapnya biasa, dan mulai melihatnya sebagai masalah serius yang harus diakhiri bersama.

    Secara sederhana, bully diartikan sebagai tindakan menyakiti orang lain secara sengaja, baik secara fisik, verbal, maupun psikologis. Bentuk bully bisa bermacam-macam:  

1. bully fisik (memukul, menendang, mendorong, atau mengambil barang milik orang lain),
2. bully verbal (mengejek, memberi julukan kasar, mengolok-olok),
3. bully sosial (mengucilkan, menyebarkan gosip, membuat orang merasa tidak diterima), dan
4. cyberbully (perundungan di dunia maya) 

    Apapun bentuknya, bully selalu menyisakan luka. Luka fisik mungkin sembuh, tetapi luka hati bisa membekas bertahun-tahun.

 

Beragam Alasan Tindakan Perundungan

    Banyak alasan yang mendorong seseorang menjadi pelaku bully. Beberapa di antaranya karena ingin merasa berkuasa. Pelaku bully sering merasa lebih hebat ketika bisa merendahkan orang lain. Bully juga bisa dilakukan untuk menutupi kelemahan diri. Kadang, orang yang mem-bully sebenarnya sedang menyembunyikan rasa insecure.

    Selain itu, bully juga bisa terjadi karena dipengaruhi lingkungan. Lingkungan yang menormalisasi perundungan, akan berdampak pada persepsi anak-anak dan remaja. Mereka akan menilai bahwa tindakan seperti adalah wajar dan bisa ditiru. Kurangnya empati dan pernah menjadi korban bully juga bisa memicu seseorang melakukan bully. Ada yang melampiaskan pengalaman pahit dengan mengulanginya pada orang lain.

    Apapun alasannya, bully tidak bisa dibenarkan. Karena bagi korban, bully bisa membawa dampak serius, yaitu psikologis, sosial, akademik/pekerjaan dan trauma jangka panjang. Bahkan, beberapa korban bully mengalami depresi berat hingga berpikir untuk mengakhiri hidup.

 

Siapa yang Harus Menjadi Benteng?

    Keluarga adalah benteng pertama agar anak tidak menjadi korban maupun pelaku bully. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para orang tua. 

    Pertama, menanamkan empati sejak dini. Kita perlu mengajarkan kepada anak untuk memahami perasaan orang lain. 

   Kedua, menghargai perbedaan. Anak harus dibiasakan menerima teman dengan latar belakang berbeda.

    Ketiga, menjadi teladan. Ucapan dan perilaku orang tua akan direkam oleh anak. Karenanya, orang tua harus memberikan teladan sikap yang baik. 

    Keempat, membangun komunikasi. Jika komunikasi orang tua dengan anak berjalan baik maka anak akan lebih terbuka dan tidak menutup diri. Ketika menemui masalah (termasuk perundungan), mereka tidak akan sungkan untuk bercerita.

  Sekolah juga sering menjadi tempat paling rawan terjadi aksi perundungan. Padahal, sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar. Karena itu, sekolah harus berperan aktif dalam mencegahnya. Langkah-langkah yang bisa dilakukan pihak sekolah antara lain:

1.   1. Membuat aturan anti-bully yang jelas,
2. Melatih guru untuk peka terhadap indikasi perundungan,
3. Membentuk tim konselor atau pendamping murid,
4. Mengajarkan pendidikan karakter, seperti empati, kerja sama, dan toleransi
5. Memberi ruang bagi murid untuk melapor tanpa takut dibalas.

 

Pentingnya Kepedulian Bersama

    Mengakhiri bully bukan tugas satu orang saja, melainkan tanggung jawab bersama. Kita semua bisa mengambil peran. Sebagai orang tua, jadilah pelindung dan teladan. Sebagai guru, jadilah pendidik yang peka dan penuh empati. Sebagai teman, jadilah sahabat yang menguatkan, bukan melemahkan. Sebagai anggota masyarakat, hentikan stigma dan ciptakan budaya saling menghormati. 

    Karena setiap senyum, kata baik, atau uluran tangan yang kita berikan bisa menjadi cahaya bagi orang yang sedang gelap karena perundungan.

    Bully adalah luka yang bisa menghancurkan masa depan, tetapi juga bisa menjadi titik balik untuk membangun kekuatan baru. Semua bergantung pada sikap kita dalam menghadapinya.

    Daripada menjadi bagian dari masalah, lebih baik kita menjadi bagian dari solusi. Mari kita hentikan bully mulai hari ini. Diawali dari diri sendiri. Karena dunia tidak butuh banyak orang yang menjatuhkan. Sebaliknya, dunia butuh lebih banyak orang yang menguatkan. 

========================

Penulis: Nurul Zulaeha, S.Pd. M.Pd.
Editor : Budi Ismail Asro


0 komentar:

Posting Komentar

SEKILAS SPAWAS

SMP Walisongo Pecangaan adalah salah satu SMP unggul di Kabupaten Jepara yang berada di bawah naungan Yayasan Walisongo Pecangaan. Berdiri pada tahun 1986, SMP Walisongo Pecangaan mempunyai ciri khas dan keunggulan dalam penguatan aqidah Islam ahlussunnah wal jamaah, pengamalan ubudiyah, pembiasaan akhlakul karimah, dan pengembangan potensi peserta didik.

VISI DAN SLOGAN

VISI "Mewujudkan lulusan yang unggul dalam prestasi, santun dalam pekerti, dan berdaya saing tinggi." SLOGAN "Unggul Berkarakter"

KATEGORI TULISAN