Di setiap sudut sekolah, lingkungan kerja, bahkan dunia maya, kita masih sering mendengar kata "bully” atau perundungan. Bully bukan sekadar candaan berlebihan. Ia adalah luka yang menusuk hati yang kadang tidak terlihat, tetapi membekas lama.
Banyak orang menganggap bully merupakan hal sepele. “Ah, cuma bercanda”, “hanya iseng”, atau “supaya kuat mental”. Padahal, bagi korban, bully bisa meninggalkan trauma yang menghancurkan rasa percaya diri, bahkan harapan hidup.
Oleh karena itu, kita perlu
berhenti menganggapnya biasa, dan mulai melihatnya sebagai masalah serius yang
harus diakhiri bersama.
Secara sederhana, bully diartikan sebagai tindakan menyakiti orang lain secara sengaja, baik secara fisik, verbal, maupun psikologis. Bentuk bully bisa bermacam-macam:
1. bully fisik (memukul, menendang, mendorong, atau mengambil barang milik orang lain),2. bully verbal (mengejek, memberi julukan kasar, mengolok-olok),
Apapun bentuknya, bully
selalu menyisakan luka. Luka fisik mungkin sembuh, tetapi luka hati bisa membekas
bertahun-tahun.
Beragam Alasan Tindakan Perundungan
Banyak alasan yang
mendorong seseorang menjadi pelaku bully. Beberapa di antaranya karena ingin
merasa berkuasa. Pelaku bully sering merasa lebih hebat ketika bisa
merendahkan orang lain. Bully juga bisa dilakukan untuk menutupi
kelemahan diri. Kadang, orang yang mem-bully sebenarnya sedang
menyembunyikan rasa insecure.
Selain itu, bully juga
bisa terjadi karena dipengaruhi lingkungan. Lingkungan yang menormalisasi
perundungan, akan berdampak pada persepsi anak-anak dan remaja. Mereka akan
menilai bahwa tindakan seperti adalah wajar dan bisa ditiru. Kurangnya empati
dan pernah menjadi korban bully juga bisa memicu seseorang melakukan bully.
Ada yang melampiaskan pengalaman pahit dengan mengulanginya pada orang
lain.
Apapun alasannya, bully
tidak bisa dibenarkan. Karena bagi korban, bully bisa membawa dampak
serius, yaitu psikologis, sosial, akademik/pekerjaan dan trauma jangka panjang.
Bahkan, beberapa korban bully mengalami depresi berat hingga berpikir
untuk mengakhiri hidup.
Siapa yang Harus Menjadi
Benteng?
Keluarga adalah benteng pertama agar anak tidak menjadi korban maupun pelaku bully. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para orang tua.
Pertama, menanamkan empati sejak dini. Kita perlu mengajarkan kepada anak untuk memahami perasaan orang lain.
Kedua, menghargai perbedaan. Anak harus dibiasakan menerima teman
dengan latar belakang berbeda.
Ketiga, menjadi teladan. Ucapan dan perilaku orang tua akan direkam oleh anak. Karenanya, orang tua harus memberikan teladan sikap yang baik.
Keempat,
membangun komunikasi. Jika komunikasi orang tua dengan anak berjalan baik maka
anak akan lebih terbuka dan tidak menutup diri. Ketika menemui masalah (termasuk
perundungan), mereka tidak akan sungkan untuk bercerita.
Sekolah juga sering menjadi tempat paling rawan terjadi aksi perundungan. Padahal, sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar. Karena itu, sekolah harus berperan aktif dalam mencegahnya. Langkah-langkah yang bisa dilakukan pihak sekolah antara lain:
Pentingnya Kepedulian Bersama
Mengakhiri bully bukan tugas satu orang saja, melainkan tanggung jawab bersama. Kita semua bisa mengambil peran. Sebagai orang tua, jadilah pelindung dan teladan. Sebagai guru, jadilah pendidik yang peka dan penuh empati. Sebagai teman, jadilah sahabat yang menguatkan, bukan melemahkan. Sebagai anggota masyarakat, hentikan stigma dan ciptakan budaya saling menghormati.
Karena setiap senyum, kata baik, atau uluran tangan yang kita berikan bisa menjadi cahaya bagi orang yang sedang gelap karena perundungan.
Bully
adalah luka yang bisa menghancurkan masa depan, tetapi juga bisa menjadi titik
balik untuk membangun kekuatan baru. Semua bergantung pada sikap kita dalam menghadapinya.
========================
Penulis: Nurul Zulaeha, S.Pd. M.Pd.
Editor : Budi Ismail Asro

0 komentar:
Posting Komentar