Senin, 25 Mei 2026

 


 Kalinyamatan, 25 Mei 2026 – Datang sebagai juara bertahan, tim futsal Spawas harus puas menjadi runner-up di ajang Sula Futsal Competition 2026. Hasil itu didapat setelah anak-anak asuhan pelatih Ridwan Setiawan kalah adu penalti di partai final yang dramatis.

El Banafsaji (Si Ungu)-julukan tim Spawas- mengawali turnamen kali ini dengan meyakinkan. Di pertandingan pembuka, tim kuat SMPN 1 Welahan berhasil dibantai dengan skor 4-1. Pertandingan seru tersaji di babak perempat final, kala terjadi derby Walisongo. Menghadapi ‘saudara kandungnya’, MTs Walisongo, Rizky dkk., tampil penuh percaya diri. Hasilnya, ‘Sang Kakak’ dipaksa pulang lebih awal setelah kalah dua gol tanpa balas.

Kedigdayaan Spawas berlanjut saat berlaga di semifinal. Kali ini giliran SMPN 2 Pecangaan yang menjadi korban. Sepanjang pertandingan, jual beli serangan terjadi. Kedua tim silih berganti menciptakan peluang berbahaya di mulut gawang. Akhirnya, tim Spawas yang berhak melaju ke partai final setelah unggul tipis 2-1.

Di laga pamungkas, Spawas tampil kurang greget. Selain karena faktor kelelahan, ratusan penonton yang condong mendukung tim lawan, menjadi tekanan tersendiri. Meski begitu, anak asuhan Ridwan Setiawan berusaha tampil tenang. Berkali-kali sang juru taktik memberikan instruksi dari pinggir lapangan agar para pemainnya fokus. Hingga babak pertama usai, skor masih kacamata, 0-0.

Memasuki babak kedua, pertandingan makin sengit. Duel-duel keras terjadi berulang kali. Akibatnya, beberapa pemain Spawas harus menerima perawatan dari tim medis. Melihat stamina pemainnya makin terkuras, coach Ridwan menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain safe.

Meski bermain lambat, tim Spawas mampu mengancam gawang lawan. Dimotori Didin dan Rizky, pertahanan SMPN 1 Mayong berulang kali berhasil diacak-acak. Puncaknya, Spawas berhasil unggul lebih dulu lewat sontekan kaki kanan Didin. Skor 1-0.

Tertinggal satu gol, anak-anak SMPN 1 Mayong meningkatkan instensitas serangannya. Berulang kali gawang Spawas yang dijaga Nizar, dibombardir. Petaka akhirnya terjadi di ujung laga. Kala pertandingan hanya menyisakan kurang dari dua menit, sebuah tembakan jarak jauh mampu memperdaya Nizar dan membuat kedudukan imbang 1-1.



Skor imbang di waktu normal, membuat laga harus dilanjutkan dengan adu tendangan penalti. Dari tiga penendang, kedua tim berhasil menyarangkan dua bola. Akhirnya, koin tos kembali dilakukan oleh wasit untuk menentukan siapa pemenang laga final ini. Spawas yang mendapat jatah menendang, gagal memanfaatkan peluang. Tendangan keras Aldi berhasil dimentahkan kiper lawan. El Banafsaji gagal mempertahankan mahkota juara dan harus puas menduduki posisi runner-up.   

Kegagalan menyabet gelar juara menyisakan kekecewaan bagi pemain Spawas. Linangan air mata dan cucuran keringat menyatu membasahi jersey kebanggaan mereka. Tim sedikit mendapat hiburan ketika Nizar dinobatkan sebagai Best Goalkeeper kejuaraan. Meski gagal di final, perjuangan para pemain, kerja keras pelatih dan offisial layak mendapat apresiasi tinggi. Big applause for the squad. #dimas.spawas

 



Sabtu, 23 Mei 2026



Prestasi membanggakan di bidang kepenulisan kembali ditorehkan murid SMP Walisongo Pecangaan. Tri Anindita Maulany, murid kelas 8 berhasil meraih juara 3 lomba Menulis Cerita dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) jenjang SMP/MTs tingkat Kabupaten Jepara. Lomba yang dihelat pada 13 Mei 2026 tersebut, bertempat di aula 1 kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Jepara.

Prestasi Nindi (sapaan akrab Tri Anindita Maulany) menyusul raihan kakak kelasnya, Naila Ibnah Sakinatul Mubarokah yang sebelumnya juga menyabet juara 3. Bedanya, Naila memperoleh gelar tersebut melalui ajang Pekan Olahraga dan Seni Maarif (Porsema) cabang Menulis Biografi Kiai.

Dua pencapaian tersebut membuktikan komitmen SMP Walisongo dalam menggiatkan budaya literasi di sekolah, khususnya dalam bidang membaca dan menulis. 

Dari tiga tema yang disediakan panitia, Nindi memilih tema “Menjaga Bumi”. Sejak lomba dimulai, jari-jari lentik Nindi terus menari-nari di atas keyboard laptop. Ia menulis cerita berjudul “Jejak yang Kita Tinggalkan”. Berikut ini cerita lengkapnya.

 



JEJAK YANG KITA TINGGALKAN

Tri Anindita Maulany


Pagi itu aku berdiri terpaku di tepi sungai yang dulu menjadi tempat bermainku. Dulu, air di sini jernih hingga aku bisa melihat batu-batu kecil di dasarnya. Nenek sering bercerita bagaimana anak-anak kampung berenang dan menangkap udang dengan tangan kosong di sini.

Akan tetapi, pagi ini yang kulihat hanyalah hamparan air kecokelatan yang bau, dipenuhi botol-botol plastik, kantong kresek, dan busa detergen yang mengapung seperti salju kotor. Eceng gondok tumbuh liar menutupi separuh badan sungai, menghitam di bagian akarnya karena racun limbah yang mengendap bertahun-tahun. Di bibir sungai, tumpukan sampah menggunung. Bekas styrofoam, sisa makanan yang membusuk, dan kaleng-kaleng berkarat yang entah sudah berapa lama bersemayam di sana.

Udara di sekitarnya pun terasa berat. Bau busuk menyergap hidungku setiap kali angin bertiup dari arah sungai. Aku memandang ke sekeliling: pohon-pohon di bantaran sungai tampak kusam, daunnya berlapis debu, dan abu dari pembakaran sampah yang sering dilakukan warga di pinggir jalan. Tanah di sekitar sini pun sudah berubah warna: hitam berminyak di beberapa titik, bekas oli dan cairan limbah yang mengalir begitu saja dari bengkel-bengkel kecil di hulu. Aku menelan ludah. Bumi ini sakit, dan kita semua tahu, tapi pura-pura tidak melihat.

“Kamu ngapain, Nin?” suara Dita mengejutkanku. Sahabatku itu tiba-tiba muncul di belakangku. Napasnya sedikit terengah.

“Lihat ini!” kataku tanpa berbalik.

Dita menghampiriku dan memandang ke arah yang sama. Wajahnya mengeras. “Sudah berapa kali kita laporkan ini ke Pak RT,” keluhnya pelan.

“Mungkin laporan saja tidak cukup,” jawabku.

Sejak hari itu, ada sesuatu yang terus membayang di pikiranku. Di kelas, ketika Bu Sari memberi kami tugas proyek, aku mengangkat tangan tanpa berpikir panjang. “Saya ingin membuat peta sampah di sekitar sekolah, Bu.” Beberapa teman menahan tawa. Namun, Dita langsung menyahut, “Saya ikut.”

Selama seminggu penuh, aku dan Dita menyisir setiap sudut lingkungan sekolah sambil membawa kamera dan buku catatan. Kami mendokumentasikan setiap titik pembuangan sampah liar. Di balik tembok sekolah, di bawah jembatan kecil, di pojok pasar, hingga di pinggir got yang sudah tersumbat. Hasilnya mengejutkan: ada 12 titik pembuangan sampah liar hanya dalam radius 200 meter dari gerbang sekolah.

Plastik, styrofoam, sisa makanan, semuanya teronggok tanpa malu. Kami juga mencatat kondisi drainase yang mampet. selokan yang berubah menjadi tempat pembuangan oli bekas, dan satu got yang airnya sudah berubah warna menjadi hijau pekat karena lumut dan limbah. Data itu kami susun menjadi peta berwarna lengkap dengan foto-foto buktinya.

Ketika kami mempresentasikan temuan itu di depan kelas, ruangan hening. Bu Sari memandang peta itu lama. “Kalian berdua telah melakukan sesuatu yang kebanyakan orang dewasa pun enggan lakukan,” ujar Bu Sari.

Proyek itu tidak berhenti di dalam kelas. Dengan izin kepala sekolah, aku dan Dita mengajukan proposal kerja bakti kepada ketua RT setempat. Pada Minggu pagi, aku dan Dita datang paling awal ke sungai itu dengan membawa sarung tangan, karung plastik besar, dan semangat yang kami harap tidak padam sebelum siang.

Awalnya hanya lima orang yang hadir. Aku, Dita, Bu Sari, penjaga sekolah, dan Pak RT. Namun, ketika warga melihat kami turun langsung ke tepi sungai memungut sampah dengan serius, satu per satu mereka bergabung. Ada ibu-ibu yang membawa sapu lidi, bapak-bapak yang mengangkut karung sampah ke truk pengangkut. Bahkan, teman-teman sekolah kami ikut datang membawa semangat melebihi usianya. Siang itu, 12 titik sampah liar berhasil dibersihkan. Dua truk sampah penuh mengangkut hasil kerja bakti kami.

Aku tidak ingat siapa saja yang terlibat dalam kerja bakti hari itu. Hanya satu orang yang paling aku ingat. Seorang kakek yang sering kulihat membuang sampah sembarangan ke sungai, ikut datang memungut sampah-sampah. Kakek itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan ke arahku, seolah menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin penyesalan. Mungkin terima kasih. Mungkin keduanya.

Dalam perjalanan pulang, Dita bergumam, “Kita tidak mengubah sungai hari ini. Namun, kita mungkin mengubah cara bapak itu melihat sungai.”

“Dan cara dia memperlakukannya,” tambahku.

Malam harinya, aku duduk di depan rumah. Aku berpikir tentang jejak-jejak yang ditinggalkan manusia di bumi ini: jejak ban di tanah yang mengeras, jejak asap di udara yang menipis, jejak plastik di laut yang tak kunjung habis. Selama ini kita hidup seolah bumi adalah tempat sampah raksasa yang tidak akan pernah penuh.  Kita berpikir, seolah alam selalu punya cara untuk memulihkan diri meski kita terus menggerogotinya.

Bumi bukan tempat sampah. Bumi adalah rumah. Satu-satunya rumah yang kita punya, yang kita warisi dari leluhur dan akan kita wariskan kepada anak-cucu kita. Setiap sampah yang kita buang sembarangan, setiap pohon yang kita tebang tanpa menanam gantinya, setiap sungai yang kita jadikan got, semuanya adalah utang yang akan ditagih oleh generasi yang belum lahir.

Menjaga bumi bukan tugas pemerintah atau aktivis lingkungan saja. Itu tugas kita semua. Mari kita mulai dari hal paling kecil: tidak membuang sampah sembarangan dan menanam satu pohon di halaman. Karena perubahan besar selalu bermula dari keputusan kecil yang diambil oleh satu orang yang memilih untuk tidak berpaling. Aku memilih untuk menjadi orang itu. Dan aku berharap, setelah membaca cerita ini, kamu pun memilih hal yang sama.


Jumat, 22 Mei 2026


 

Gambar hanya ilustrasi

 

 Waktu berjalan begitu cepat tanpa pernah menunggu kita bersiap. Rasanya baru kemarin kami menyambut anak-anak kelas 9. Mereka masuk ke ruang kelas dengan mata penuh binar. Rasa ingin tahu, kecemasan khas remaja, dan sejuta mimpi terpendam. Kini, lembaran perjuangan tiga tahun di bangku sekolah menengah pertama telah mencapai babak puncak.

Sebagai salah satu pendidik di SMP Walisongo Pecangaan, ada rasa haru yang membuncah saat menerima lembar undangan resmi dari Yayasan Walisongo Pecangaan. Undangan yang bertajuk Muwadda’ah & Tasyakkur Kelulusan Tahun Pelajaran 2025/2026 ini bukan sekadar kertas biasa. Bagi kami para guru, ini adalah maklumat bahwa tugas mengantarkan anak-anak di satu fase kehidupan telah tunai. Selanjutnya, gerbang petualangan yang lebih besar telah menanti di depan mata.

 

Momentum Kebersamaan yang Sakral

Acara akbar ini insyaallah akan dilaksanakan serentak untuk seluruh unit pendidikan di bawah naungan Yayasan Walisongo Pecangaan. Mulai dari MTs, SMP, MA, SMA, hingga SMK. Berdasarkan agenda, prosesi suci ini bakal digelar pada hari Ahad, tanggal 24 Mei 2026 di gelanggang olahraga milik Yayasan.

Saya bersama rekan guru akan hadir mengenakan batik seragam Yayasan terbaru. Namun, lebih dari sekadar formalitas pakaian dan kehadiran fisik, momentum ini adalah ruang khidmat untuk mendoakan masa depan anak-anak.

Rangkaian acara telah dirancang begitu indah oleh panitia yang dikomandani Bapak Ahmad Zainuddin, S.Kom. Mulai dari Kirab Wisudawan yang akan memancarkan wajah-wajah penuh kebanggaan, hingga prosesi wisuda. Tidak kalah penting, kita juga akan mereguk ilmu dalam siraman rohani oleh KH. Toha Abrori dari Bojonegoro.

 

Angkatan Keren Penuh Prestasi

Secara khusus, ingatan saya tentu langsung tertuju pada dinamika luar biasa di tiga ruang kelas 9. Ada 28 murid di kelas 9A yang selama ini saya bersamai langsung sebagai wali kelas. Di sebelah kami, ada 29 murid kelas 9B yang diasuh dengan penuh kesabaran oleh Ibu Iva Lutviana, M.Pd.. Sedangkan di kelas 9C ada 28 murid yang dibimbing dengan luar biasa oleh Ibu Lailatul Qodriyah, S.Pd.

Sebanyak 85 mutiara bangsa ini adalah angkatan yang sangat istimewa. Jika kita membuka kembali rekam jejak digital di media sosial SMP Walisongo Pecangaan, deretan feed-nya penuh sesak dengan dokumentasi prestasi yang telah ditorehkan oleh mereka. Mulai dari lomba akademik, olahraga, seni, hingga bidang kepramukaan dan keagamaan. Mereka bukan hanya sekadar belajar, tetapi telah mengukir nama baik sekolah dengan tinta emas.

Tiga tahun kami berbagi ruang dan tawa. Sebuah masa yang kadang dihiasi dengan teguran-teguran kecil dari para guru. Saya yakin, tidak ada satu pun teguran yang lahir dari rasa benci. Semuanya merupakan bentuk asahan agar karakter para murid menjadi sekuat berlian. Di sekolah ini, kami menyaksikan mereka tumbuh dari remaja awal yang pemalu menjadi pribadi-pribadi yang berani, kreatif, santun, dan berdaya saing tinggi.

 

Seuntai Pesan Untuk Wisudawan

Muwadda'ah ini adalah panggung bagi kalian. Saat samir wisuda dikalungkan, ada doa yang mengalir deras dari benak para guru. Di setiap langkah kaki menuju panggung wisuda, ada harapan besar agar ilmu yang didapatkan di sekolah menjadi berkah dan bermanfaat.

Terkait keberkahan ilmu, saya teringat sebuah nasihat emas dari Syekh Al-Zarnuji dalam kitab klasik penuntut ilmu, Ta’limul Muta’allim Thariqat Ta'allum:

فَإِنَّ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِيَعْمَلَ بِهِ نَفَعَهُ الْعِلْمُ وَبُوْرِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ تَعَلَّمَهُ لِغَيْرِ الْعَمَلِ كَانَ عِلْمُهُ وَبَالاً عَلَيْهِ

"Sesungguhnya barang siapa yang menuntut suatu ilmu dengan niat untuk mengamalkannya, maka ilmu itu akan mendatangkan manfaat baginya dan ia akan diberkahi di dalamnya. Namun, barangsiapa yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, maka ilmunya justru akan menjadi beban/kesengsaraan baginya."

Nasihat ini menjadi alarm penting bagi anak-anakku kelas 9. Kelulusan ini bukanlah garis akhir dari proses belajar, melainkan awal dari tanggung jawab baru untuk mengamalkan apa yang telah didapatkan.

Ke mana pun kalian akan melangkah, tetaplah membawa karakter khas murid Yayasan Walisongo. Jangan pernah lupakan nilai-nilai akhlak, kemandirian, dan ketauhidan yang selama ini digembleng di sekolah. Bawalah nama baik almamater dengan penuh integritas di mana pun kalian berada. Kami melepas kalian dengan senyum bangga dan doa yang tidak akan pernah putus. Lusa kalian telah lulus, tetapi belajar harus tetap jalan terus.

Terima kasih kepada seluruh orang tua dan wali murid. Sebuah kepercayaan dan sinergi yang luar biasa selama tiga tahun. Amanah yang diberikan kepada kami mungkin belum bisa kami laksanakan dengan sempurna. Semoga langkah terbaik yang telah kami upayakan, mampu menjadi secercah cahaya bagi langkah anak-anak kita.  

Sampai jumpa di gelanggang tasyakkur kelulusan. Panggung muwaddaah yang insyaallah penuh berkah. 

=============================


Penulis: Abdul Wahid, M.Si.
Editor: Budi Ismail Asro





Selasa, 19 Mei 2026


 

Ruang Multimedia SMP Walisongo Pecangaan sejak Sabtu pagi kemarin tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada deretan meja kaku dengan lembar jawab komputer yang sunyi. Sebaliknya, atmosfer di dalam ruangan justru menyerupai ruang sidang ilmiah mini yang penuh energi. Mulai Sabtu, 16 Mei 2026, sekolah yang mengusung jargon #UnggulBerkarakter ini resmi menggelar agenda besar: Uji Performa & Research Expo Tahun Ajaran 2025/2026.

Bukan sekadar ajang pameran kreativitas musiman, kegiatan ini memikul bobot akademis yang sangat krusial. Berdasarkan program kerja sekolah, presentasi Uji Performa Riset IPA ini merupakan salah satu pilar utama instrumen penentu komponen kelulusan bagi seluruh murid kelas 9.

Langkah berani ini diambil sebagai wujud nyata implementasi Panduan Pembelajaran dan Asesmen (PPA) dari BSKAP Kemendikbudristek, yang mendorong sekolah untuk beralih ke asesmen autentik. Kompetensi murid tidak lagi diukur lewat hafalan kertas, melainkan diuji secara langsung lewat tindakan, penalaran, dan kemampuan mempertahankan ide di hadapan publik.

 

Sinergi di Balik Layar Ruang Multimedia

Berjalannya sebuah acara besar yang presisi tentu membutuhkan kerja tim yang solid di belakang layar. Sejak langkah pertama memasuki ruangan, koordinasi apik sudah terasa. Begitu mikrofon dibuka dengan suara khas Bapak Budi Ismail, S.E. selaku pembawa acara, suasana hangat namun formal langsung terbangun. 

Di sudut kendali teknis, Bapak Kiki Syahnakri, S.Kom. sebagai operator sibuk memastikan transisi salindia presentasi dan kualitas audio berjalan tanpa kendala. Sementara Bapak Rif’ul Mazid Maulana, S.Si. dari tim media dengan sigap mengabadikan setiap momen penting lewat bidikan lensa kameranya.

Sisi estetika panggung dan pengarahan alur pementasan presentasi anak-anak juga tampak matang. Hal ini tidak lepas dari sentuhan dingin Ibu Noor Afiyah, S.Pd. selaku Waka Kurikulum dan koordinator kegiatan yang bertindak sebagai pengarah jalannya acara. Berkat kawalan beliau, anak-anak kelas 9 tidak hanya tampil sebagai peneliti, tetapi juga mampu menyajikan presentasi yang memiliki daya pikat visual dan performa panggung yang percaya diri.

Kepala SMP Walisongo Pecangaan, Ibu Nurul Zulaeha, S.Pd., M.Pd, melalui kalimat sambutannya menjabarkan visi sekolah dan tujuan penyelenggaraan acara kepada para orang tua yang duduk rapi menyimak dengan seksama.

 

Kejutan Trilingual: Dominasi Bahasa Inggris hingga Langkanya Bahasa Mandarin

Ada pemandangan yang luar biasa dan sempat mencuri perhatian seluruh hadirin di dalam Ruang Multimedia. Saat mempresentasikan proyek riset IPA mereka, para murid tidak hanya fasih menyampaikan paparan dalam Bahasa Indonesia. 

Di luar ekspektasi, beberapa kelompok tampil dengan penuh percaya diri memaparkan materi menggunakan Bahasa Inggris, bahkan sebagian murid lainnya memberikan kejutan besar dengan menyisipkan pengantar dan penjelasan menggunakan Bahasa Mandarin yang fasih.

Kemampuan komunikasi internasional ini menjadi penanda kuat bahwa penguasaan bahasa asing benar-benar menjadi program andalan di SMP Walisongo Pecangaan. Untuk tingkat sekolah menengah pertama, terobosan ini tergolong sangat langka dan visioner. Bahkan, bisa dibilang kelas bahasa Mandarin untuk jenjang SMP kemungkinan besar baru ada di sini, menjadikannya satu-satunya pelopor utama di seluruh wilayah Kabupaten Jepara. Langkah berani ini membuktikan bahwa sekolah sukses mencetak generasi lokal yang siap berpikir global.

 

Lima Kriteria Utama Penilaian Kinerja

Sebagai sebuah ujian kelulusan, bobot penilaian dilakukan secara ketat dan objektif. Bertindak sebagai tim penilai utama dari unsur guru adalah Kepala SMP Walisongo Pecangaan, Ibu Nurul Zulaeha, S.Pd., M.Pd., didampingi oleh Waka Kurikulum, Ibu Nor Afiyah, S.Pd. Kehadiran beliau berdua di meja penguji memastikan bahwa standar akademis riset tetap berada pada koridor yang valid berdasarkan rubrik evaluasi kinerja.

Ada 5 kriteria utama yang menjadi dasar penilaian tim juri di dalam ruangan:

  • Kreativitas Karya/Produk: Menguji keaslian gagasan awal, keunikan ide, serta daya kreativitas murid dalam merancang proyek riset.
  • Kualitas Karya/Produk: Menilai kekuatan metodologi ilmiah, ketepatan fungsi, kerapian, serta ketahanan dari produk IPA yang dibuat.
  • Kerjasama Antarmurid: Mengukur kolaborasi tim, pembagian tugas yang adil, serta kemampuan menekan ego individu demi visi kelompok.
  • Inovasi dan Kebermanfaatan Karya: Menakar seberapa jauh riset mini ini memberikan solusi nyata dan manfaat konkret bagi lingkungan masyarakat sekitar Pecangaan.
  • Penyajian dan Kemampuan Komunikasi: Menantang mentalitas public speaking murid saat menyampaikan presentasi, merespons pertanyaan kritis, serta kecakapan dalam menggunakan bahasa asing pilihan mereka.

 


Metode Triangulasi: Keterlibatan Juri Guru, Wali Murid, dan "Voter" Adik Kelas

Selain penilaian formal dari tim juri guru, SMP Walisongo menerapkan sistem penilaian 360 derajat (triangulasi). Di sisi lain bangku penonton, kehadiran para orang tua atau wali murid memberikan atmosfer emosional yang hangat sekaligus ikut memberikan penilaian dari sudut pandang perkembangan karakter anak selama berproses di rumah.

Lalu, bagaimana dengan keterlibatan murid kelas 7 dan 8? Sekolah menerapkan metode yang sangat cerdas agar tidak mengganggu jalannya presentasi di dalam Ruang Multimedia. Murid kelas 7 dan 8 tidak menonton jalannya presentasi secara langsung di dalam ruangan, melainkan mereka datang secara bergantian (shifting) ke area pameran untuk melihat langsung produk fisik hasil riset kakak kelasnya.

Di sinilah proses penilaian sebaya (peer-assessment) terjadi secara unik. Setiap adik kelas dibekali stiker tempel khusus. Setelah mengamati, bertanya, dan menilai kualitas produk yang dipamerkan. Mereka akan menempelkan stiker tersebut pada produk favorit pilihan mereka sebagai bentuk dukungan dan poin penilaian publik. Cara ini merujuk pada konsep Penilaian Autentik dari isi buku Assessment in Educational Settings karya J.H. McMillan yang melibatkan komunitas sebaya. Hal itu terbukti efektif meningkatkan motivasi internal murid untuk berkarya.

Proses penggemblengan mental dan karakter ilmiah ini tentu tidak terjadi dalam semalam. Di belakang kelompok-kelompok riset yang tangguh ini, ada peran tiga srikandi pembimbing murid, yaitu Ibu Lailatul Qodriyah, S.Pd., Ibu Iva Lutviana, M.Pd., dan Ibu Isnaini Alfiyatul Husna, S.Pd. Melalui tangan dingin para pembimbing inilah, murid diajari cara menyusun tahap demi tahap penelitian, melakukan eksperimen secara jujur, hingga mengolah data secara objektif.

 

Maraton Tiga Hari yang Penuh Emosional

Sesuai dengan linimasa yang dirancang sekolah, pelaksanaan uji performa ini dibagi menjadi tiga gelombang demi menjaga kualitas penilaian yang mendalam. ‘Kloter’ pertama, kelas 9A tampil pada Sabtu, 16 Mei 2026, sebagai panggung pembuka. 

Ketegangan sekaligus rasa bangga yang luar biasa tampak jelas di wajah Sang Wali kelas, Bapak Abdul Wahid, M.Si. Meskipun bukan bertindak sebagai pembina teknis risetnya, menyaksikan satu per satu anak didik yang diasuhnya sehari-hari berdiri tegap di podium dengan penuh percaya diri mempertahankan hasil kerja keras mereka adalah sebuah kepuasan batin yang tak ternilai bagi seorang wali kelas.

Dinamika berlanjut pada hari kedua, Ahad, 17 Mei 2026. Ruang Multimedia kembali menggelora dengan presentasi dari kelas 9B. Di bawah kawalan ketat Ibu Iva Lutfiana, M.Pd. selaku wali kelas. Seluruh perangkat juri dan murid tetap menunjukkan dedikasi yang tinggi untuk menampilkan performa terbaiknya. Puncaknya, maraton akademis ini ditutup pada Selasa, 19 Mei 2026 oleh penampilan pamungkas dari kelas 9C yang didampingi oleh wali kelas mereka, Ibu Lailatul Qodriyah, S.Pd.

 

Lahirnya Jiwa yang #UnggulBerkarakter

Melalui kegiatan Research Expo ini, SMP Walisongo Pecangaan membuktikan kelasnya sebagai lembaga pendidikan yang tidak sekadar mengejar angka-angka mati di atas kertas rapor. Melalui empat pilar utama sekolah—Berpikir Kritis, Berkarya, Berinovasi, dan Bermanfaat—para murid dididik untuk menjadi manusia yang merdeka dan solutif. 

Ketika lulus nanti, mereka tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga membawa modal mentalitas peneliti berkompetensi global yang siap bersaing.

Keberhasilan penyelenggaraan acara ini sekaligus menjadi etalase hidup bagi masyarakat luas, khususnya para orang tua yang sedang mencari sekolah terbaik untuk putra-putrinya. Sistem pendidikan yang terukur, humanis, memiliki program bahasa asing yang unggul, dan berbasis kompetensi nyata seperti inilah yang ditawarkan oleh SMP Walisongo Pecangaan pada gelaran SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 ini.

Mengingat komitmen sekolah untuk menjaga rasio belajar yang ideal dan eksklusif, kuota pendaftaran tahun ini dibatasi dengan sangat ketat, yaitu hanya membuka tiga kelas. Bagi calon wali murid yang tidak ingin kehilangan momentum emas ini, gerbang komunikasi telah dibuka melalui Call Center resmi melalui WhatsApp 0823 1352 1462. 

Pada akhirnya, di sekolah yang menghargai setiap proses karya inilah, potensi terbaik anak Anda akan tumbuh dan mekar dengan optimal.

================================


Penulis: 
Abdul Wahid, M.Si.
Editor: Budi Ismail Asro


Sabtu, 29 November 2025

Kegiatan pembelajaran intrakurikuler SMP Walisongo Pecangaan untuk setiap mata pelajaran mengacu pada capaian pembelajaran. Sedangkan untuk kegiatan kokurikuler yang ditujukan untuk memperkuat upaya pencapaian profil lulusan mengacu pada Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA). 

SMP Walisongo Pecangaan mengacu pada struktur kurikulum pemerintah yang mengatur beban belajar untuk setiap muatan atau mata pelajaran dalam jam pelajaran (JP) per tahun. SMP Walisongo Pecangaan mengatur alokasi waktu setiap minggunya secara fleksibel dalam satu tahun ajaran. 

SMP Walisongo Pecangaan menambahkan muatan lokal yang ditetapkan oleh pemerintah daerah yang sesuai dengan karakteristik daerah di kabupaten Jepara dan kekhasan sekolah. Mata pelejaran muatan lokal tersebut yaitu, Ke-NU-an, Alqur’an, Aqidah Akhlaq, Ketrampilan Agama, Bahasa Jawa, Bahasa Mandarin, Kewirausahaan, dan IPA dalam bidang riset.

Sebagai dasar pengorganisasian pembelajaran, sekolah menyusun struktur kurikulum yang sesuai Kepmendikbudristek nomor 56/M/2022 yang terdiri atas satu fase yaitu Fase D yaitu untuk kelas VII, VIII, dan IX. Struktur Kurikulum Merdeka SMP terbagi menjadi tiga, yaitu: pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler dalam bentuk projek based learning, dan ekstrakurikuler. Pelaksanaan projek based learning dilakukan secara fleksibel, baik secara muatan maupun secara waktu pelaksanaan. Secara muatan, projek based learning harus mengacu pada capaian delapan dimensi lulusan sesuai dengan fase murid, dan tidak harus dikaitkan dengan capaian pembelajaran pada mata pelajaran.

A. Intrakurikuler 

Dalam pembelajaran intrakurikuler berisi muatan mata pelajaran serta muatan tambahan. Berikut struktur kurikulum nasional, muatan lokal dan pengembangan diri di SMP Walisongo Pecangaan:

Struktur Kurikulum Nasional, muatan lokal untuk Kelas VII dan VIII SMP Walisongo Pecangaan Tahun Ajaran 2025/2026

No

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler

(per tahun)

Alokasi Kokurikuler

(per tahun)

Total JP

(per tahun)

Ket

Mata Pelajaran Wajib

1.

PAI dan Budi Pekerti

72

36

108

 

2.

Pendidikan Pancasila

72

36

108

 

3.

Bahasa Indonesia

180

36

216

 

4.

Matematika

144

36

180

 

5.

IPA

144

36

180

 

6.

IPS

108

36

144

 

7.

Bahasa Inggris

108

36

144

 

8.

PJOK

72

36

108

 

9.

Informatika

72

36

108

 

10.

Seni dan Prakarya (Seni Rupa)

72

36

108

 

Total JP Mata Pelajaran Wajib

1.044

360

1404

 

11.

Muatan Lokal

Bahasa Jawa

72

-

72

 

Total JP Mata Pelajaran Wajib + Muatan Lokal

1.116

380

1.476

 

 

Struktur Kurikulum Nasional, muatan lokal untuk Kelas IX SMP Walisongo Pecangaan Tahun Ajaran 2025/2026

No

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler

(per tahun)

Alokasi Kokurikuler

(per tahun)

Total JP

(per tahun)

Ket

Mata Pelajaran Wajib

1.

PAI dan Budi Pekerti

64

32

96

 

2.

Pendidikan Pancasila

64

32

96

 

3.

Bahasa Indonesia

160

32

192

 

4.

Matematika

128

32

160

 

5.

IPA

128

32

160

 

6.

IPS

96

32

128

 

7.

Bahasa Inggris

96

32

128

 

8.

PJOK

64

32

96

 

9.

Informatika

64

32

96

 

10.

Seni dan Prakarya (Seni Rupa)

64

32

96

 

Total JP Mata Pelajaran Wajib

928

320

1.248

 

11.

Muatan Lokal

Bahasa Jawa

64

-

64

 

Total JP Mata Pelajaran Wajib + Muatan Lokal

992

320

1.312

 

 

Struktur Kurikulum Kekhususan di SMP Walisongo Pecangaan Tahun Ajaran 2025/2026

No

Mata Pelajaran

Alokasi Waktu

Kelas VII, VIII, IX

1

Ke-Nu-an

1

2

Al Qur’an

2

3

Aqidah Akhlak

2

4

Ketrampilan Agama

2

Jumlah jam

7

 

Struktur Kurikulum Kekhususan di SMP Walisongo Pecangaan Tahun Ajaran 2025/2026

No

Mata Pelajaran

Alokasi Waktu

Kelas VII, VIII, IX

1

BK

1

2

Riset IPA dan Olimpiade

2

3

Bahasa Mandarin

2

4

Kewirausahaan

2

5

PKKH

1

Jumlah jam

8

 

Sumber: Dokumen Kurikulum Satuan Pendidikan SMP Walisongo Pecangaan tahun ajaran 2025/2026.


SEKILAS SPAWAS

SMP Walisongo Pecangaan adalah salah satu SMP unggul di Kabupaten Jepara yang berada di bawah naungan Yayasan Walisongo Pecangaan. Berdiri pada tahun 1986, SMP Walisongo Pecangaan mempunyai ciri khas dan keunggulan dalam penguatan aqidah Islam ahlussunnah wal jamaah, pengamalan ubudiyah, pembiasaan akhlakul karimah, dan pengembangan potensi peserta didik.

VISI DAN SLOGAN

VISI "Mewujudkan lulusan yang unggul dalam prestasi, santun dalam pekerti, dan berdaya saing tinggi." SLOGAN "Unggul Berkarakter"

KATEGORI TULISAN

PALING BANYAK DIBACA