Selasa, 19 Mei 2026


 

Ruang Multimedia SMP Walisongo Pecangaan sejak Sabtu pagi kemarin tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada deretan meja kaku dengan lembar jawab komputer yang sunyi. Sebaliknya, atmosfer di dalam ruangan justru menyerupai ruang sidang ilmiah mini yang penuh energi. Mulai Sabtu, 16 Mei 2026, sekolah yang mengusung jargon #UnggulBerkarakter ini resmi menggelar agenda besar: Uji Performa & Research Expo Tahun Ajaran 2025/2026.

Bukan sekadar ajang pameran kreativitas musiman, kegiatan ini memikul bobot akademis yang sangat krusial. Berdasarkan program kerja sekolah, presentasi Uji Performa Riset IPA ini merupakan salah satu pilar utama instrumen penentu komponen kelulusan bagi seluruh murid kelas 9.

Langkah berani ini diambil sebagai wujud nyata implementasi Panduan Pembelajaran dan Asesmen (PPA) dari BSKAP Kemendikbudristek, yang mendorong sekolah untuk beralih ke asesmen autentik. Kompetensi murid tidak lagi diukur lewat hafalan kertas, melainkan diuji secara langsung lewat tindakan, penalaran, dan kemampuan mempertahankan ide di hadapan publik.

 

Sinergi di Balik Layar Ruang Multimedia

Berjalannya sebuah acara besar yang presisi tentu membutuhkan kerja tim yang solid di belakang layar. Sejak langkah pertama memasuki ruangan, koordinasi apik sudah terasa. Begitu mikrofon dibuka dengan suara khas Bapak Budi Ismail, S.E. selaku pembawa acara, suasana hangat namun formal langsung terbangun. 

Di sudut kendali teknis, Bapak Kiki Syahnakri, S.Kom. sebagai operator sibuk memastikan transisi salindia presentasi dan kualitas audio berjalan tanpa kendala. Sementara Bapak Rif’ul Mazid Maulana, S.Si. dari tim media dengan sigap mengabadikan setiap momen penting lewat bidikan lensa kameranya.

Sisi estetika panggung dan pengarahan alur pementasan presentasi anak-anak juga tampak matang. Hal ini tidak lepas dari sentuhan dingin Ibu Noor Afiyah, S.Pd. selaku Waka Kurikulum dan koordinator kegiatan yang bertindak sebagai pengarah jalannya acara. Berkat kawalan beliau, anak-anak kelas 9 tidak hanya tampil sebagai peneliti, tetapi juga mampu menyajikan presentasi yang memiliki daya pikat visual dan performa panggung yang percaya diri.

Kepala SMP Walisongo Pecangaan, Ibu Nurul Zulaeha, S.Pd., M.Pd, melalui kalimat sambutannya menjabarkan visi sekolah dan tujuan penyelenggaraan acara kepada para orang tua yang duduk rapi menyimak dengan seksama.

 

Kejutan Trilingual: Dominasi Bahasa Inggris hingga Langkanya Bahasa Mandarin

Ada pemandangan yang luar biasa dan sempat mencuri perhatian seluruh hadirin di dalam Ruang Multimedia. Saat mempresentasikan proyek riset IPA mereka, para murid tidak hanya fasih menyampaikan paparan dalam Bahasa Indonesia. 

Di luar ekspektasi, beberapa kelompok tampil dengan penuh percaya diri memaparkan materi menggunakan Bahasa Inggris, bahkan sebagian murid lainnya memberikan kejutan besar dengan menyisipkan pengantar dan penjelasan menggunakan Bahasa Mandarin yang fasih.

Kemampuan komunikasi internasional ini menjadi penanda kuat bahwa penguasaan bahasa asing benar-benar menjadi program andalan di SMP Walisongo Pecangaan. Untuk tingkat sekolah menengah pertama, terobosan ini tergolong sangat langka dan visioner. Bahkan, bisa dibilang kelas bahasa Mandarin untuk jenjang SMP kemungkinan besar baru ada di sini, menjadikannya satu-satunya pelopor utama di seluruh wilayah Kabupaten Jepara. Langkah berani ini membuktikan bahwa sekolah sukses mencetak generasi lokal yang siap berpikir global.

 

Lima Kriteria Utama Penilaian Kinerja

Sebagai sebuah ujian kelulusan, bobot penilaian dilakukan secara ketat dan objektif. Bertindak sebagai tim penilai utama dari unsur guru adalah Kepala SMP Walisongo Pecangaan, Ibu Nurul Zulaeha, S.Pd., M.Pd., didampingi oleh Waka Kurikulum, Ibu Nor Afiyah, S.Pd. Kehadiran beliau berdua di meja penguji memastikan bahwa standar akademis riset tetap berada pada koridor yang valid berdasarkan rubrik evaluasi kinerja.

Ada 5 kriteria utama yang menjadi dasar penilaian tim juri di dalam ruangan:

  • Kreativitas Karya/Produk: Menguji keaslian gagasan awal, keunikan ide, serta daya kreativitas murid dalam merancang proyek riset.
  • Kualitas Karya/Produk: Menilai kekuatan metodologi ilmiah, ketepatan fungsi, kerapian, serta ketahanan dari produk IPA yang dibuat.
  • Kerjasama Antarmurid: Mengukur kolaborasi tim, pembagian tugas yang adil, serta kemampuan menekan ego individu demi visi kelompok.
  • Inovasi dan Kebermanfaatan Karya: Menakar seberapa jauh riset mini ini memberikan solusi nyata dan manfaat konkret bagi lingkungan masyarakat sekitar Pecangaan.
  • Penyajian dan Kemampuan Komunikasi: Menantang mentalitas public speaking murid saat menyampaikan presentasi, merespons pertanyaan kritis, serta kecakapan dalam menggunakan bahasa asing pilihan mereka.

 


Metode Triangulasi: Keterlibatan Juri Guru, Wali Murid, dan "Voter" Adik Kelas

Selain penilaian formal dari tim juri guru, SMP Walisongo menerapkan sistem penilaian 360 derajat (triangulasi). Di sisi lain bangku penonton, kehadiran para orang tua atau wali murid memberikan atmosfer emosional yang hangat sekaligus ikut memberikan penilaian dari sudut pandang perkembangan karakter anak selama berproses di rumah.

Lalu, bagaimana dengan keterlibatan murid kelas 7 dan 8? Sekolah menerapkan metode yang sangat cerdas agar tidak mengganggu jalannya presentasi di dalam Ruang Multimedia. Murid kelas 7 dan 8 tidak menonton jalannya presentasi secara langsung di dalam ruangan, melainkan mereka datang secara bergantian (shifting) ke area pameran untuk melihat langsung produk fisik hasil riset kakak kelasnya.

Di sinilah proses penilaian sebaya (peer-assessment) terjadi secara unik. Setiap adik kelas dibekali stiker tempel khusus. Setelah mengamati, bertanya, dan menilai kualitas produk yang dipamerkan. Mereka akan menempelkan stiker tersebut pada produk favorit pilihan mereka sebagai bentuk dukungan dan poin penilaian publik. Cara ini merujuk pada konsep Penilaian Autentik dari isi buku Assessment in Educational Settings karya J.H. McMillan yang melibatkan komunitas sebaya. Hal itu terbukti efektif meningkatkan motivasi internal murid untuk berkarya.

Proses penggemblengan mental dan karakter ilmiah ini tentu tidak terjadi dalam semalam. Di belakang kelompok-kelompok riset yang tangguh ini, ada peran tiga srikandi pembimbing murid, yaitu Ibu Lailatul Qodriyah, S.Pd., Ibu Iva Lutviana, M.Pd., dan Ibu Isnaini Alfiyatul Husna, S.Pd. Melalui tangan dingin para pembimbing inilah, murid diajari cara menyusun tahap demi tahap penelitian, melakukan eksperimen secara jujur, hingga mengolah data secara objektif.

 

Maraton Tiga Hari yang Penuh Emosional

Sesuai dengan linimasa yang dirancang sekolah, pelaksanaan uji performa ini dibagi menjadi tiga gelombang demi menjaga kualitas penilaian yang mendalam. ‘Kloter’ pertama, kelas 9A tampil pada Sabtu, 16 Mei 2026, sebagai panggung pembuka. 

Ketegangan sekaligus rasa bangga yang luar biasa tampak jelas di wajah Sang Wali kelas, Bapak Abdul Wahid, M.Si. Meskipun bukan bertindak sebagai pembina teknis risetnya, menyaksikan satu per satu anak didik yang diasuhnya sehari-hari berdiri tegap di podium dengan penuh percaya diri mempertahankan hasil kerja keras mereka adalah sebuah kepuasan batin yang tak ternilai bagi seorang wali kelas.

Dinamika berlanjut pada hari kedua, Ahad, 17 Mei 2026. Ruang Multimedia kembali menggelora dengan presentasi dari kelas 9B. Di bawah kawalan ketat Ibu Iva Lutfiana, M.Pd. selaku wali kelas. Seluruh perangkat juri dan murid tetap menunjukkan dedikasi yang tinggi untuk menampilkan performa terbaiknya. Puncaknya, maraton akademis ini ditutup pada Selasa, 19 Mei 2026 oleh penampilan pamungkas dari kelas 9C yang didampingi oleh wali kelas mereka, Ibu Lailatul Qodriyah, S.Pd.

 

Lahirnya Jiwa yang #UnggulBerkarakter

Melalui kegiatan Research Expo ini, SMP Walisongo Pecangaan membuktikan kelasnya sebagai lembaga pendidikan yang tidak sekadar mengejar angka-angka mati di atas kertas rapor. Melalui empat pilar utama sekolah—Berpikir Kritis, Berkarya, Berinovasi, dan Bermanfaat—para murid dididik untuk menjadi manusia yang merdeka dan solutif. 

Ketika lulus nanti, mereka tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga membawa modal mentalitas peneliti berkompetensi global yang siap bersaing.

Keberhasilan penyelenggaraan acara ini sekaligus menjadi etalase hidup bagi masyarakat luas, khususnya para orang tua yang sedang mencari sekolah terbaik untuk putra-putrinya. Sistem pendidikan yang terukur, humanis, memiliki program bahasa asing yang unggul, dan berbasis kompetensi nyata seperti inilah yang ditawarkan oleh SMP Walisongo Pecangaan pada gelaran SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 ini.

Mengingat komitmen sekolah untuk menjaga rasio belajar yang ideal dan eksklusif, kuota pendaftaran tahun ini dibatasi dengan sangat ketat, yaitu hanya membuka tiga kelas. Bagi calon wali murid yang tidak ingin kehilangan momentum emas ini, gerbang komunikasi telah dibuka melalui Call Center resmi melalui WhatsApp 0823 1352 1462. 

Pada akhirnya, di sekolah yang menghargai setiap proses karya inilah, potensi terbaik anak Anda akan tumbuh dan mekar dengan optimal.

================================


Penulis: 
Abdul Wahid, M.Si.
Editor: Budi Ismail Asro


0 komentar:

Posting Komentar

SEKILAS SPAWAS

SMP Walisongo Pecangaan adalah salah satu SMP unggul di Kabupaten Jepara yang berada di bawah naungan Yayasan Walisongo Pecangaan. Berdiri pada tahun 1986, SMP Walisongo Pecangaan mempunyai ciri khas dan keunggulan dalam penguatan aqidah Islam ahlussunnah wal jamaah, pengamalan ubudiyah, pembiasaan akhlakul karimah, dan pengembangan potensi peserta didik.

VISI DAN SLOGAN

VISI "Mewujudkan lulusan yang unggul dalam prestasi, santun dalam pekerti, dan berdaya saing tinggi." SLOGAN "Unggul Berkarakter"

KATEGORI TULISAN

PALING BANYAK DIBACA