Jumat, 31 Oktober 2025



Pada tanggal 15 Oktober 2015, Joko Widodo selaku Presiden Republik Indonesia, meresmikan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) setiap tanggal 22 Oktober.  Penetapan itu dilakukan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2015.  

Dipilihnya tanggal 22 Oktober sebagai HSN karena memiliki nilai sejarah yang kuat. Pada tanggal tersebut di tahun 1945, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa resolusi jihad. Resolusi jihad merupakan sebuah bentuk seruan kepada umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan dari serangan pasukan sekutu.

Tahun ini, SMP Walisongo Pecangaan melaksanakan peringatan HSN secara sederhana, tetapi penuh makna. Kegiatan dimulai ketika mentari mulai menebar kehangatan lewat pancaran sinarnya. Seluruh warga sekolah bergerak serempak menuju Masjid Besar Walisongo Pecangaan untuk menunaikan shalat dhuha.



Selepas shalat dhuha, Achmad Khoirul Faiz, murid kelas IX B, memimpin pembacaan Asmaul Husna. Kemudian dirangkai dengan tadarus Al Qur’an selama 15 menit yang dipandu oleh Siska Nur Jannah dan Khoiriyatul Luthfiyah. Keduanya masih duduk di bangku kelas VIII. Mengenakan busana muslim dan muslimah serba putih, para peserta duduk bersila mengikuti kegiatan dengan khusyu’. 

Sebagai acara pamungkas, K.H. Miftahul Amin, Lc. menyampaikan tausiyah di hadapan ratusan peserta. Wakil Kepala Sekolah bidang hubungan masyarakat tersebut menjelaskan bahwa santri adalah orang yang dididik menjadi orang baik. Orang baik adalah orang yang bermanfaat bagi sesamanya (Khoirunnas Anfa’uhum Linnas). 

Beliau juga menguraikan tiga kriteria agar kita bisa menjadi ‘orang baik’. Pertama, kita harus memiliki ilmu. Kedua, kita senantiasa beramal shalih, dan ketiga, hati kita harus bersih (ikhlas).



Setelah menyampaikan tausiyah, sosok penyabar yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Bimbingan Haji dan Umroh (KBIHU) Walisongo Pecangaan tersebut memimpin doa bersama. 

Para peserta menyambut positif kegiatan tersebut. Sebagaimana penuturan Adji Prasetya Wijiyantoro, murid kelas IX B yang ditemui redaksi selepas acara. “Kalau saya sih, lebih setuju peringatan HSN diisi dengan istighosah dan pengajian seperti ini. Selain kita bisa berdoa bersama, mendengarkan tausiyah dari kiai juga sangat bermanfaat bagi kami para santri.” terangnya.

Ketua OSIS SMP Walisongo Pecangaan, Naila Ibnah Sakinatul Mubarokah juga memberikan tanggapan positif. “Santri memiliki peran yang sangat besar dalam menjaga nilai-nilai agama, budaya dan keutuhan bangsa. Oleh karena itu, kegiatan semacam ini tidak hanya memberi apresiasi atas perjuangan para santri, tetapi juga menjadi motivasi agar semangat santri bisa kami teladani.” tuturnya.

Sementara itu, Kepala SMP Walisongo Pecangaan, Nurul Zulaeha, S.Pd, M.Pd., mengutarakan harapannya agar acara semacam ini bukan sekadar seremonial semata. Ditemui redaksi saat ikut mendampingi kegiatan, guru Bahasa Inggris tersebut menegaskan bahwa peringatan HSN harus jadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat juang dan cinta tanah air di kalangan santri.

Perjuangan santri bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan ilmu, akhlak, dan keteguhan iman. Santri sejati bukan hanya pandai membaca kitab, tetapi juga mampu membaca zaman. Bukan hanya tekun mengaji, tapi juga tangguh menghadapi tantangan kehidupan.” ujarnya.


Selain menggelar pengajian dan doa bersama, para murid juga diajak untuk peduli lingkungan melalui kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah. Sadar bahwa menjaga kebersihan adalah sebagian dari iman, murid-murid tampak bersemangat membersihkan tempat di mana mereka menimba ilmu setiap hari. Senyum ceria terpancar dari wajah mereka.

"Mari kita jadikan peringatan HSN ini sebagai pengingat, bahwa 'Santri Mandiri, Indonesia Jaya' bukan hanya slogan, melainkan komitmen untuk terus belajar, berbuat baik, dan memberi manfaat bagi sesama." pungkas Nurul Zulaeha.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan kepada kita semua dan lembaga pendidikan kita, serta menjadikan kita bagian dari generasi yang menjaga agama dan bangsa dengan ilmu dan akhlak mulia. Aamiin. ---(dimas-spawas)

 

 

 

 

 


Rabu, 08 Oktober 2025


Mengawali tahun ajaran baru, SMP Walisongo Pecangaan mengadakan pertemuan dengan wali murid. Acara yang berlangsung di ruang multimedia tersebut dilaksanakan dalam tiga sesi belum lama ini. Sesi pertama untuk wali murid kelas VII, kedua  untuk  wali murid kelas VIII dan sesi ketiga bagi wali murid kelas IX.

Selain untuk menyosialisasikan program, pembiayaan, dan tata tertib sekolah, pertemuan tersebut juga bertujuan untuk menciptakan sinergi positif antara orang tua dan sekolah. Melalui kegiatan yang bertajuk “Parenting Session” tersebut sekolah ingin mengajak  orang tua untuk lebih memahami berbagai aspek perkembangan anak, termasuk kebutuhan emosional, kognitif, dan sosial mereka.

Kepala SMP Walisongo Pecangaan, Nurul Zulaeha, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya mengungkapkan bahwa anak bukan hanya butuh ilmu, tetapi juga perhatian, konsistensi, dan dukungan dari orang terdekatnya. Guru menanam ilmu dan karakter sementara orang tua menyiramnya agar tumbuh menjadi pribadi kuat. “Ketika di sekolah, pendidikan anak menjadi tanggung jawab sekolah. Namun, saat mereka di luar jam sekolah, peran dan tanggung jawab orang tua sangat dibutuhkan.” imbuhnya.




Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut, Dwi Erlin Effendi, M.Pd. Motivator yang juga berprofesi sebagai dosen di UNISNU Jepara tersebut membagikan pengalamannya dalam mendidik sang buah hati. Selain itu, ia juga menyampaikan materi mengenai pentingnya pemahaman orang tua tentang ilmu parenting dan pola asuh anak.

“Setiap anak memiliki karakter dan keunikan masing-masing. Oleh karena itu, perlu ada sentuhan berbeda dari orang tua kepada setiap anak. Bukan bermaksud membeda-bedakan, tetapi hal ini penting demi tumbuh kembang anak sesuai dengan potensi yang dimiliki.” Terang ibu dari empat anak tersebut. Saat ini, anak ketiga beliau duduk di bangku kelas VII SMP Walisongo Pecangaan.




Dwi Erlin juga mengingatkan pentingnya kedekatan orang tua dengan anak. Anak yang tidak pernah diajak dialog orang tuanya sejak kecil akan mengalami lazy mind (malas berpikir). Anak-anak yang terkena lazy mind biasanya akan sering mengatakan “terserah ayah” atau “terserah ibu”. Padahal, di balik kata “terserah”, tersimpan makna bahwa mereka tidak mau ribet dan berpikir. Akibatnya, mereka cenderung tidak memiliki kreativitas dalam mengatasi permasalahan (problem solving). Hal ini tentu berbahaya.

Direktur Eksekutif  Yayasan Walisongo Pecangaan, H. Adib Khoiruzzaman, S.Ag., M.Pd. mengapresiasi inisiatif SMP Walisongo untuk menggelar Parenting Session. Dalam sambutannya, putra K.H. Mahfudh Asymawi tersebut mengajak para orang tua untuk terus bersinergi dengan sekolah demi mewujudkan visi sekolah dan cita-cita orang tua. “Peran orang seharusnya tidak sekadar pemenuhan biaya sekolah saja, tetapi juga berupa ikhtiyar batin. Doa dan tirakat orang tua sangat penting demi kesuksesan sang buah hati.” Pungkas beliau mengakhiri sambutan.

Sementara itu, Purwanto, salah seorang wali murid, menyampaikan tanggapan positifnya. Ditemui tim media sekolah sesaat setelah acara usai, entrepreneur yang anaknya duduk di kelas VII tersebut mengaku mendapat banyak manfaat dan inspirasi dari acara yang mengusung tema “Menjadi orang tua hebat, membentuk generasi dahsyat” tersebut. “Sangat inspiratif. Acara seperti ini dapat menambah wawasan, khususnya apa yang perlu dimiliki dan dilaksanakan para orang tua dalam mengantarkan anak menuju masa depan sesuai bakat yang dimilikinya,” ucapnya.

(Budi-Spawas)




SEKILAS SPAWAS

SMP Walisongo Pecangaan adalah salah satu SMP unggul di Kabupaten Jepara yang berada di bawah naungan Yayasan Walisongo Pecangaan. Berdiri pada tahun 1986, SMP Walisongo Pecangaan mempunyai ciri khas dan keunggulan dalam penguatan aqidah Islam ahlussunnah wal jamaah, pengamalan ubudiyah, pembiasaan akhlakul karimah, dan pengembangan potensi peserta didik.

VISI DAN SLOGAN

VISI "Mewujudkan lulusan yang unggul dalam prestasi, santun dalam pekerti, dan berdaya saing tinggi." SLOGAN "Unggul Berkarakter"

KATEGORI TULISAN

PALING BANYAK DIBACA